Jogja atau Bali?

Mungkin topik yang disebutkan di atas merupakan topik yang tidak terlalu penting bagi orang Indonesia pada umumnya dalam menentukan destinasi wisata. Tapi hal ini akan sangat membantu sekali bagi para turis asing yang ingin berlibur ke Indonesia. ya.. tentu saja, mereka kan belum mengetahui secara langsung tempat-tempat wisata di Indonesia. dan mungkin saja, turis turis tersebut hanya mendapatkan informasi melalui artikel, atau video dokumentasi yang ada di internet.

20140328-025700.jpg

Mengapa kali ini saya mengangkat topik tentang “jogjakarta atau bali?”. Seperti yang kita tahu bahwa Jogja dan Bali merupakan destinasi favorit turis asing yang hendak berlibur ke Indonesia. bahkan tidak sedikit pula turis yang tinggal menetap, memiliki kendaraan dan rumah pribadi, pekerjaan bahkan memiliki anak di Indonesia. entah memang membawa anaknya dari tempat tinggal asal dan dibesarkan di jogja, atau mungkin melahirkan dan dibesarkan di Indonesia yang jelas banyak dari mereka yang telah fasih berbicara bahasa jawa dan indonesia. saya tidak tahu..tapi kita tidak perlu membahasnya disini.. hahaha. Sebenarnya saya berasal dari kota kecil yang terletak di Jawa Timur. tepatnya di kota Probolinggo. mungkin jika saya tarik secara geografis, Probolinggo terletak di tengah tengah antara Jogjakarta dan Bali. dan selama 6 tahun terakhir ini saya telah menghabiskan waktu untuk tinggal di Jogjakarta, jadi sedikit banyak saya telah mempelajari budaya lokal, kebiasaan atau habit, wisata, maupun gaya hidup yang ditawarkan kota ini. Dan mengenai Bali saya hanya pernah berkunjung beberapa kali dan selebihnya mengenal melalui obrolan bersama teman-teman yang berasal dari Bali, ataupun teman-teman yang tinggal dan bekerja di Bali yang berasal dari kota Probolinggo.

Dari apa yang saya ketahui dan saya amati selama ini. ternyata antara Jogja dan Bali memiliki ciri khas yang membedakan di antara keduanya, meskipun tetap memiliki kesamaan juga. misalkan saja dari aura dan pesona wisata yang ditawarkan. Jogja lebih mengajak kita untuk menemukan sebuah ketenangan, kenangan-kenangan atau nostalgia jaman dulu, karena suasana jogja sampai hari ini masih menyimpan dan melestarikan bangunan-bangunan kuno, kebudayaan di masa lalu. mungkin hal ini mendapat pengaruh dari Keraton Jogja, sehingga para investor tidak bisa sembarangan membangun gedung tinggi dan mewah seperti kota besar di Jakarta dan Surabaya. Keraton seperti memegang andil dan kendali besar dalam memberikan dan menentukan keputusan penting yang menyangkut Jogjakarta, ya.. mengingat keraton Jogja ini kan pemilik daratan Jawa di jaman dulu istilahnya. dan masyarakat Jogja mendukung hal tersebut, dan hal ini menambah solid keistimewaan Jogja. seperti tidak luntur di telan jaman seperti kerajaan kerajaan lain di Indonesia. mungkin kalau secara lancang saya berani menyebut, Jogja ini seperti Inggris. yaitu kerajaan yang masih tetap eksis di jaman modern tapi masih di kenal dan menjadi pesona dunia. jika anda para wisatawan sedang beruntung, anda bisa menemui perayaan-perayaan atau festival khas Jogja yang unik dan agak aneh mungkin ditelinga anda. misalkan saja, festival jamu, festival ubi, festival makanan Jogja tempo dulu, festival batik dan lain-lain. dan setiap tahun sekali kadang terdapat event Jogja Java Carnival. ya seperti semacam disneyland ala tradisional, dimana kesenian atau budaya tradisional dari berbagai negara asia secara iring-iringan berpawai memamerkan budaya khas negara mereka masing-masing.

20140328-025745.jpg

Ada benarnya pepatah yang mengatakan bahwa lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setelah tadi saya membahas tentang Jogja, sekarang saya akan mencoba menceritakan sekilas tentang perbedaannya dengan Bali. jika Jogja menawarkan sebuah ketenangan, maka Bali menawarkan sebuah keceriaan. jika saya mendengar tentang Bali, maka hal pertama yang ada di pikiran saya adalah senyum lebar dan ramah ala orang-orang Bali. bukan berarti di Jogja anda tidak akan menemukan orang ramah dan rajin senyum. tapi di Bali anda akan melihat betapa orang-orang Bali yang benar-benar ceria sekali, entah bagaimana saya harus menjelaskan detilnya kepada anda. tapi senyum orang-orang lokal Bali ini seperti angin, dimana ketika berada dekat dengan mereka, kita jadi ikut-ikutan merasa ceria seketika, seperti seolah-olah mereka sangat bangga dan excited sekali bercerita tentang Bali. inilah sebuah fenomena atau situasi yang selalu membuat saya selalu excited ketika bepergian ke Bali. mungkin jika tidak berlebihan saya menyebut, Bali ini tidak ubahnya seperti Las Vegasnya Indonesia. sedangkan Jogja adalah Vienna-nya Indonesia, hanya saja tidak bersungai-sungai seperti itu.

Jika anda penasaran, alangkah baiknya anda berkunjung langsung ke kedua tempat tersebut. atau jika memang waktu anda sangat terbatas dan harus memilih salah satu destinasi wisata tersebut, pilihlah sesuai suasana hati anda. jika anda sedang ingin mencari sebuah ketenangan, pencerahan, Jogja adalah tempat yang cocok untuk anda. tapi jika anda menginginkan sebuah keceriaan, melepas penat dari aktivitas yang membosankan, menghilangkan stress, Bali bisa menjadi opsi pilihan tepat. so, tentukan pilihanmu ya guys!.

Advertisements

Sate Ayam Podomoro

20140325-073726.jpg

Bagi anda yang kurang berminat dengan sate daging, atau bermasalah dengan kolesterol. Sate Ayam Podomoro juga bisa menjadi solusi alternatif yang cocok untuk menemani anda dalam berwisata kuliner akhir pekan. Berbeda dengan sate ayam kebanyakan, sate di tempat ini menggunakan bahan dasar ayam kampung. Tapi anda jangan berpikiran bahwa sate ayam kampung ini akan terasa keras dan susah digigit. Justru sebaliknya, mungkin dikarenakan teknik pemasakannya yang tepat dan menggunakan ayam pilihan, sate ayam di warung podomoro ini terasa begitu empuk dan kenyal. Apalagi rasa dan aroma jeruk nipisnya yang menyatu ke dalam bumbu membuat sensasi segar saat kita menyantapnya.

Tekstur dagingnya begitu lembut dan komposisi bumbu kacangnya juga pas tidak terlalu penuh oleh kacang, atau kecap yang berlebih yang membuat rasa dari bumbu itu sendiri terlalu manis. Sehingga rasa yang didapat antara manis, gurih, sedap dan beraroma segar. Hanya saja, potongan dagingnya terlalu tipis dan porsi nasinya tidak terlalu banyak. Jadi saya rasa menu sate di warung sate podomoro ini hanya cocok untuk pengganjal di saat anda hendak bepergian atau di sela-sela kesibukan kantor.

20140325-073921.jpg

Selain sate daging, anda juga bisa menikmati beberapa varian. Diantaranya sate kulit, sate uritan, sate telur, dan sate jeroan. Harga untuk seporsi sate, nasi dan segelas es teh di warung sate podomoro ini sedikit lebih mahal dibanding sate ayam pada umumnya, yaitu 19ribu rupiah. Mungkin dikarenakan bahan yang digunakan bukan ayam potong melainkan ayam kampung.

Terlepas dari harga, Saya sangat merekomendasikan bagi anda pecinta sate ayam. Karena rasanya yang sangat khas dan berbeda dengan sate ayam lainnya.

Jika anda berminat untuk mengunjungi warung sate Podomoro, berikut petunjuknya. Dari arah Jalan Mataram, lurus menuju ke selatan sebelum perempatan lampu merah Hotel Melia Purosani yang berada di sebelah timur jalan Malioboro. Tepat di sebelah kanan jalan sebelum perempatan lampu merah tersebut terdapat mushola yang berdempetan langsung dengan warung sate Podomoro. Letaknya persis di sebelah kanan jalan jika dari arah utara ke selatan. Selamat berwisata kuliner ya!

Sate Goreng Pak Tris

dscf2310

Jika anda bosan dengan menu sate bakar, ada menu alternatif lain yang bisa menjadi pilihan. Diantaranya ialah menu sate goreng Pak Tris. Warung yang berlokasi di pertigaan beringin Mlati Sleman ini, menyediakan sate goreng kambing dan berbagai menu kambing lainnya. Menu sateng goreng kambing Pak Tris ini memang paling cocok jika dinikmati saat makan siang. Namun di jam-jam tersebut jangan harap anda dapat dengan mulus memesan menu, karena untuk dapat menikmati seporsi sate goreng saja, anda harus rela antri lama bahkan di moment-moment tertentu anda harus antri sampai berjam-jam. Bagaimana tidak, di daerah sekitar warung tersebut memang banyak terdapat kantor. Sehingga di jam istirahat, banyak sekali orang yang datang untuk makan siang disana.

20140324-232441.jpg

Tetapi jangan khawatir, ada trik-trik agar tidak mengantri lama. Saran saya adalah anda bisa datang di pagi hari pada saat warung ini baru buka, karena jika anda datang lewat dari jam 1 siang, biasanya menu sate goreng tersebut sudah habis, dan hanya tersisa menu-menu lainnya seperti tongseng, tengkleng, dan gulai. Warung sate Pak Tris biasanya buka mulai dari jam 8 pagi sampai sekitar jam 2 siang. Jika anda berminat untuk datang kesana, anda bisa mengikuti petunjuk berikut. Dari arah terminal jombor anda terus saja mengikuti jalan menuju ke arah barat sampai nanti anda menemui pertigaan yang ditengahnya terdapat pohon beringin, dan beberapa meter sebelumnya tepat di sebelah kanan jalan anda akan menemui warung sederhana disebelah kanan jalan. Ciri-cirinya adalah warung tersebut di apit oleh warung kelontong kecil di sebelah kanan, dan tempat cuci motor di sebelah kirinya, dan tepat di pohon beringin tersebut biasanya terdapat orang berjualan es buah. Untuk seporsi sate goreng Pak Tris dan segelas es teh dihargai 17ribu rupiah. Saya rasa harga tersebut sesuai dengan harga standar sate goreng pada umumnya. Tapi soal cita rasa? Sate goreng ini adalah sate goreng paling enak se-Jogjakarta ( sekali lagi, ini menurut versi saya..hehe ).

Sate Petir Pak Nano

20140324-032922.jpg

Jika anda adalah seorang penikmat makanan berbahan dasar daging sekaligus makanan pedas, tentu anda akan menyesal jika belum mencoba sate ala Pak Nano yang berlokasi di sebelah barat Pabrik Gula Madukismo ini. Kesan pertama yang membuat saya kaget dan penasaran ketika pertama kali mengunjungi warung Pak Nano ini adalah ketika orang di daerah sana menyebutnya dengan julukan sate petir. Saya sendiri tidak tahu kalau selama ini Warung Sate Pak Nano terkenal dengan julukan tersebut. Yang ada di benak saya saat itu adalah pasti sate Pak Nano ini benar-benar pedas. Bahkan dari beberapa orang yang saya tanya mengenai sate petir pak nano sempet nyeletuk “sate yang pedes itu ya mas?”.

Wah saya menjadi semakin penasaran mendengar pernyataan orang-orang itu. Ya.. meski saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan makanan pedas, tapi saya sangat penasaran sekali dan nekat ingin membuktikan secara langsung apakah akan sepedas yang saya kira dan seperti yang mereka katakan?. Sekilas dari depan, warung sate Pak Nano ini tidak tampak seperti warung pada umumnya, karena memang lokasinya menjadi satu dengan rumah Pak Nano, jadi malah terkesan seperti rumah penduduk. Tanpa berbasa basi saya pun langsung memesan seporsi sate Petir tersebut. Menurut penilaian saya, yang membuat sate ini special adalah potongan dagingnya yang lebih besar dibanding sate daging pada umumnya, dan selain itu pula anda bisa menentukan sendiri tingkat kepedasannya. Seperti yang di iklan TV katakan, anda akan mendapatkan rasa pedasnya bahkan digigitan pertama! Meskipun saya memesan sate dengan tingkat kepedasan yang paling bawah, tapi saya benar-benar dibuat berkeringat olehnya.

20140324-033459.jpg

Jika anda tidak tahan pedas, anda juga bisa memesan yang biasa, tetapi siap-siap saja anda akan di jadikan bahan ledekan oleh si penjual. Selain sate, anda juga bisa memesan tongseng, dan tengkleng. Harga untuk seporsi sate pak nano ini bisa dibilang lumayan murah yaitu 20ribu saja, dan itupun sudah termasuk nasi dan segelas eh teh manis. cukup murah bukan?

Tongseng Kambing Pak Dakir

tongseng mr. dakir

Mr. Dakir satay is one of the satay stall that became my favorite option when I was feeling bored and tired after doing activity all day long. In addition to a comfortable place to relax, is also a strategic location because it is close to second-hand goods market who called ‘klitikan’. klitikan is located on east of the road HOS Cokroaminoto. So it is well suited for you to eliminate boredom and hunger after hunting goods. Not only selling satay menu, Mr. Dakir stall also provides a variety of goat dishes, such as for example tongseng ( almost like curry, but only use meat for main ingredient ), tengkleng ( almost like curry, but only use bone for main ingredient ), gule ( but the difference with curry in general is to use the goat skin and the internal organ like liver, lungs etc. ), fried curry, fried goat and for favorite menu here is ‘Butet’ or ‘pliket’ fried rice. ( fried rice with textures like risotto ). why called Butet fried rice? as i know from the owner, pliket or butet fried rice is the favorite menu who often ordered by celebrity Butet Kertaradjasa that you often see on TV. Therefore, the fried rice named Butet. actually distinguishes between fried rice in generally and pliket fried rice is contain lard or fat slices are enough to create a sticky sensation, and perhaps of that term ‘pliket’ was derived. And now the Butet fried rice seemed to be a trademark for the Mr. Dakir satay stall.

mr. dakir stall jogjakarta

But apart from that, the menus are provided in Mr. Dakir satay stall is worth to try. One of my favorites menu is a tongseng. Tongseng menu at this place was very different from most tongseng in Jogjakarta. In color, tongseng Mr. Dakir colored brown and not too thick. In terms of ingredients, the meat used for all menus except Gule, namely the use of young goat meat and fat do not use part or lard. So you do not have to worry to become fat. And the taste, I guess tongseng in Mr Dakir stall is one of the most delicious tongseng in Jogjakarta (according to my version of course). perfect savory flavor and dense, but not heavy, so it does not make feel full even though we eat more than 1 serving. Curious to try? Have you just come here. the location is on the west market Klitikan Jogjaktarta. or rather in the way of HOS Tjokroaminoto 75. Open afternoon starting at 5 to 9 pm.

Complete guide and information about culinary world and traveling in Jogjakarta.